Timer Omron H3CR adalah komponen paling vital di mesin gulung tali rafia yang saya rakit di Cicalengka. Tanpa timer Omron H3CR ini, panjang gulungan rafia tidak akan seragam dan hasilnya pasti kusut. Oleh karena itu, dari 14 komponen yang saya beli, H3CR ini yang saya anggap sebagai otaknya.
Daftar Isi Konten
- Kenapa Saya Pilih Omron H3CR untuk Mesin Gulung?
- Cara Kerja Omron H3CR dengan 4 Komponen Lain
- 1. Dinamo Jiayu Single Phase sebagai Jantung Penggerak
- 2. Kontaktor sebagai Saklar Otomatis yang Kuat
- 3. Push Button sebagai Tombol Reset Darurat
- 4. Saklar On Off
- Pengalaman Setting Biar Gulungan Seragam: 1 Kg 2 Menit
Saya masih ingat waktu belanja di Glodok jam 4 subuh, saya sengaja pilih Omron H3CR original, bukan timer digital murah. Alasannya simpel, selain itu timer analog H3CR ini tahan debu dan getaran Kanal U5. Namun, beda dengan timer digital yang gampang error di bengkel las, H3CR jauh lebih bandel.
Di pasaran ada banyak tipe, akan tetapi untuk mesin gulung tali rafia, saya selalu pakai Timer Omron H3CR-A (Power ON Delay).
Cara kerjanya: Pertama-tama, begitu saklar on off dinyalakan, H3CR mulai menghitung. Selanjutnya, setelah durasi yang kita setting, H3CR akan memutus arus ke kontaktor. Akibatnya, dinamo berhenti, dan operator tinggal potong. Jadi, panjangnya sama semua.
Ini yang sering ditanya pembeli dari Cicalengka. Timer H3CR tidak kerja sendiri. Sebaliknya, dia butuh 4 kawan agar bisa jalan:
Timer Omron H3CR hanya memberi perintah. Sementara itu, yang muter pipa roll 2.5mm itu dinamo Jiayu single phase. Di bengkel, saya selalu tes dinamo Jiayu 10 menit sambil ngopi. Jika panasnya normal, baru saya pasang. Namun, kalau dinamo abal-abal, timer sebagus apapun akan ngaco karena putaran tidak stabil. Oleh karena itu, lihat stok dinamo Jiayu yang saya pakai.
Dinamo Jiayu itu bebannya besar, sehingga gak bisa langsung disambung ke timer. Oleh sebab itu, Timer Omron H3CR saya hubungkan dulu ke kontaktor. Sebagai contoh, H3CR memberi sinyal kecil, kemudian kontaktor yang akan mengangkat beban berat dinamo. Dengan demikian, ini bikin timer jadi awet tahunan, tidak cepat gosong.
Di Box Panel PVC TIBOX, saya pasang push button warna merah sebagai tombol reset. Fungsinya, misalnya kalau gulungan rafia melilit atau benang putus di tengah jalan, operator tinggal pencet push button. Setelah itu, timer H3CR akan reset ke 0 lagi tanpa harus matikan saklar utama. Jadi, ini penting biar tidak buang bahan.
Terakhir, saklar on off sebagai pemutus utama. Saat saklar ON, lampu indikator hijau nyala, kemudian Timer Omron H3CR mulai hitung. Selanjutnya, saat timer selesai, lampu merah nyala tanda gulungan jadi. Pada akhirnya, sistem sederhana ini yang saya pakai 7 hari perakitan di Cicalengka.
Untuk spesifikasi lengkap, Anda bisa cek datasheet di Website Resmi Omron Indonesia.
Berdasarkan pengalaman saya, jangan pakai timer kw. Sebagai contoh, saya pernah coba timer 80 ribuan. Akibatnya, hasilnya 10 gulungan beda-beda panjangnya. Pada akhirnya, rugi di bahan.
Setelah itu, saya catat setting paling pas untuk mesin saya. Ternyata, pengalaman saya menggulung 1 kg tali rafia itu sekitar 2 menit. Oleh karena itu, settingnya jadi seperti ini:
- Pertama, untuk roll kecil 100 gram: Dial Range 0-30s, Knob di 12-15 detik
- Kedua, untuk roll 1 kg: Dial Range 0-3 menit, Knob di 2 menit
- Ketiga, Mode tetap di A (ON Delay)
Dengan setting 2 menit untuk 1 kg ini, hasilnya paling seragam dan pas untuk pesanan dari Bandung. Jadi, operator tidak perlu nimbang lagi, cukup andalkan timer saja.
Jadi, kalau Anda mau bikin mesin gulung tali rafia seperti yang saya ceritakan di artikel Cara Membuat Mesin Gulung Tali Rafia, jangan pelit di Timer Omron H3CR. Meskipun demikian, 4 komponen lain (kontaktor, push button, saklar on off, dinamo Jiayu) bisa menyesuaikan, akan tetapi otaknya harus H3CR original.

